Kisah Inspiratif dari Seorang Petani Jagung yang Sukses


    Seorang petani jagung hidup sederhana di suatu tempat dataran tinggi. Kepala desa di tempat tersebut sering mengadakan perlombaan terkait hasil pertanian dalam menyambut hari jadi Kabupaten. Pada cabang hasil pertanian, seorang petani jagung ini selalu mendapatkan juara setiap tahunnya.

    Seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

    "Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda?  Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?" tanya sang wartawan.

    "Tak tahukah anda?," jawab petani itu.
"Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula."
    Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.

Perdebatan Hasil 3 x 7 = 21 atau 27 ?






         Alkisah di Tiongkok pernah ada seorang guru yang sangat dihormati karena tegas, jujur dan bijaksana. Suatu hari, 2 murid menghadap guru tersebut. Mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hitungan 3x7.

          Murid pandai mengatakan 21. Murid bodoh bersikukuh mengatakan 27. Murid bodoh menantang murid pandai untuk meminta guru sebagai Jurinya untuk mengetahui siapa yang benar diantara mereka, sambil si bodoh mengatakan, "Jika saya yang benar 3 x 7 = 27, maka engkau harus mau di cambuk 10 kali oleh GURU. Tapi jika kamu yang benar  3x7=21, maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri.
           "Ha ha ha ....." demikian si bodoh menantang sangat yakin dengan pendapatnya.
           "Katakan GURU, mana yg benar ?", tanya murid bodoh

          Ternyata GURU memvonis cambuk 10x bagi murid yang pandai, yang menjawab 21. Si murid pandai protes keras! GURU menjawab, "Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk KETIDAK ARIFANmu yg mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yg tidak tau kalo 3x7 adalah 21 !"

           Guru melanjutkan, "Lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi ARIF daripada GURU harus melihat satu nyawa terbuang sia2!"

            Jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yg tak berguna, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yang memulai perdebatan, sebab dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk hal yang tidak perlu.

         Bukankah kita sering mengalaminya?

         Bisa terjadi dengan pasangan hidup, rekan kerja, tetangga/kolega.. Berdebat atau bertengkar untuk hal yg tdk ada gunanya hanya akan menguras energi percuma. Ada saatnya kita diam untuk menghindari perdebatan atau pertengkaran yang sia-sia.

        Diam bukan berarti kalah. Memang tidak mudah, tapi janganlah sekali-kali  berdebat dengan orang bodoh yang tidak menguasai permasalahan.

 "MERUPAKAN SUATU KEARIFAN BAGI ORG YG BISA MENGONTROL DIRI DAN MENGHINDARI KEMARAHAN ATAS SUATU KEBODOHAN !!"

Sumber 

Andaikata Lebih Panjang Lagi

 “Jika Kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula,” (Q.S. Al Isra : 07).
                                                                             
          Rasulullah mempunyai kebiasaan rutin. Hari itu, ada salah seorangnya yang meninggal dunia. Seperti biasanya, ketika ada salah seorang sahabatnya meninggal dunia, beliau pasti akan menyempatkan diri unruk mengantarkan jenazahnya sampai ke kuburan. Tidak cukup sampai di situ, pada saat pulangnya, disempatkanya pula singgah untuk menghibur dan menennangkan keluarga almarhum yang ditinggalkan supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.
Begitu pun terhadap keluarga sahabatnya itu.
          Ketia sampai di rumah keluarga almarhum, Rasulullah bertanya kepada istrinya, “Tidakkah almarhum suamimu mengucapkan wasiat ataulah sesuatu sebelum ia wafat?”
Istrinya yang masih diliputi kesedihan hanya bertunduk. Isak tangis masih sesekali terdengar dari dirinya. “Aku mendengar ia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal. Ketika itu ia tengah menjelang ajal, ya Rasulullah.”
          Rasulullah manggut-manggut. “Apa yang dikatakannya gerangan ?”
“Aku tidak tahu, ya Rasulullah. Maksudku, aku tidak mengerti apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dahsyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaranmerupakan kalimat yang terpotong-potong.”
         “Bagaimana bunyinya?” desak Rasulullah.
          Istri yang setia itu menjawab, masih sambil terisak. “Suamiku mengatakan ‘Andaikata lebih pajang lagi .... Andaikata yang masih baru ... Andaikata semuanya ....’ Hanya itulah yang tertanggkap sehingga aku dan keluargaku bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu hanya  igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?
Rasulullah tersenyum. Senyum Rasulullah itu membuat istri almarhum sahabat menjadi keheranan. Kemudian, terdengar Rasulullah berbicara, “ Sungguh, apa yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,” ujar Rasulullah. Beliau menerawang sejenak.  “Jika kalian semua tahu, biarlah aku ceritakan kepada kalian apa gerangan sebenarnya yang terjadi.
          “Kisahnya seperti ini, “ Rasulullah memulai.  “Pada suatu hari, ia sedang  bergegas akan ke masjid untuk melaksankan shalat jum’at. Di tengah jalan ia berjumpa dengan seorang buta yang tujuan sama hendak ke masjid pula. Si buta itu sendirian tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya.”

            “Maka, dengan sabar dan telatennya, suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas yang penghabisan, ia menyaksikan palaha amal shalenya itu. Lalu ia pun berkata, ‘Andaikata lebih panjang lagi.’ Maksdunya adalah  andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi pasti pahalanya akan jauh lebih besar pula.
Semua keluaga sekarang mengangguk-angguk kepalanya. Mulai mengerti sebagian duduk perkara.
          “Terus ucapan yang lainnya, ya Rasulullah?” tanya sang istri yang semakin penasaran saja.
Nabi menarik nafas sejenak. Kemudian menjawab, “Adapun  ucapan yang kedua dikatakan tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya,  waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi sekali untuk shalat subuh, cuaca dingin sekali. Di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia pun mencopotnya yang lama yang tengah dikenakannya dan di berikan kepada si lelaki tua itu.
         “Menjelang saat-saat terakhirnya suamimu melihat balasan amak kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, ‘Coba, andaikata yang masih baru yang kuberikan kepadanya, dan bukanya mantelku yang lama ku berikan kepadanya, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi.’ Itulah yang dikatakan suamimu selegkapnya.
         “Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksunya ya Rasulullah?” Tanya sang istri lagi.
Dengan penuh kesabaran, Rasulullah menjelaskan, “Ingatkah engkau ketika pada suatu waktu suamimu datang dalam keadaaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Ketika itu engkau segera menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur daging dan mentega. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong. Yang sebelahnya diberikannya kepada musafir itu. Dengan demikian pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalan itu. Karenanya, ia pun menyesal dan bekata, ‘Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak akan kuberikan hanya separuh. Sebab, andaikata semuanya kuberikan keadanya, sudah pasti pahala berlipat ganda pula.”
         Sekarang semu anggota keluarga mengerti. Mereka tak lagi risau dengan apa yang telah terjadi kepada suami dan ayah mereka ketika menjelang wafatnya tempo hari. Ke;apangan telah ia dapatkan karena ia tidak sungkan untuk menolong dan memberi. []

Rujukan : Saefullah, S. 2010. Peri Hidup Nabi dan Para Sahabatnya. Purwakarta : SPU

Jemari Sang Raja yang Terputus


              Alkisah hiduplah seorang raja yang perkasa. Ia memimpin kerajaan yang sangat besar. suatu ketika sang raja ini ingin bekeliling untuk mengunjungi rakyatnya. seperti biasa raja selalu menggunakan kuda kerajaan yang besar dan gagah, serta ditemani penasehat kerajan serta ratusan pengawalnya untuk menjamin keamaan raja saat berkeliling untuk menemui rakyat-rakyatnya.

sumber : Google Image (King on Horse)
               Saat sedang di perjalanan, tanpa sebab yang diketahui. Tiba-tiba, kuda dengan suaranya yang keras meringkik-ringkik sambil mengangkat kaki ke atas. Sang Raja pun tak sanggup mengendalikan kuda yang ditungganginya. Raja terpelanting karena hilang kendali, akibatya raja terjatuh dan jari kelilingnya terputus. 

               Sang Raja pun marah, "Baginda, sebaiknya kita bersyukur walau terkena musibah seperti ini", ujar penasihat kerajaan. Merasa tersinggung, bukannya Sang Raja luluh malah tambah murka. Raja dengan lantangnya "Penjarakan penasihat tak berguna ini wahai pengawal". Pengawal yang selalu patuh menuruti permintaan raja untuk memenjarakan penasihat kerajaan.
              Hari berganti, tahun ke tahun, suatu saat sang Raja ingin berburu namun hanya ingin ditemani oleh seorang pengawal kepecayaannya saja. Kala berburu dan sudah jadi hobinya. Sang Raja sudah sangat jauh dari kerajaankarena asiknya mengejar hewan buruannya. Tertangkaplah sang Raja oleh suku peimitif yang tinggal di hutan tersebut kemudian sang Raja akan dijadikan tumbal. Raja yang gagah, putih dan tampan itu diperiksa ternyata alah satu jemarinya tidak ada. Akhirnya sang Raja pun selamat, namun tetap harus diganti. Sebagai pengganti, pengawalnya yang tidak cacat dijadikan korban. Pengawal itu dieksekusi, dan rajanya dipulangkan.
             Setelah itu raja menyadari kekhilafannya. Penasihat yang dulu di penjara itu pun dilepaskan. ''Ananda memang harus bersyukur tidak memiliki kelingking,'' kata Raja, mengakui kesalahannya. Ternyata, sang penasihat pun bersyukur, ''Kalau saja saya tidak dipenjarakan oleh Baginda, mungkin, hamba sudah menggantikan Baginda sebagai tumbal.''

Seperti itulah cerita Jemari Sang Raj yang Terputus, semoga kita bisa mengambil pelajaran yang positif dari cerita tersebut, terimakasih telah berkunjung. Semoga besok
kita masih bisa berjumpa.

Berhentilah Menjadi Gelas

Ilusrtasi oleh Google Image
     Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. "Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya. "Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.     Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta. "Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. "Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru. "Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

      Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. "Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya. "Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

      Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?" "Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya. "Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?" "Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

     "Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

     Si murid terdiam, mendengarkan. "Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya  tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."